17 November 2009

PERSAHABATAN

Persahabatan
Kita berbincang tentang makna pertemuan
Kadang kelam seperti teroris dalam dekap senapan
Bisa juga menggairahkan seperti penyair bertemu keindahan

Persahabatan
Kita bercakap dalam keterasingan
Ada kata yang diam, hanya rasa mengalir pelan
Tak cukup isyarat untuk memahami pengakuan

Persahabatan
Kita bercengkrama di antara putaran
Memintal kepercayaan dan menanam kebenaran
Yakinkan saja bahwa hidup bergelombang namun juga mengasyikkan

Persahabatan
Aku dan engkau bersatu dalam rindu.

Depok, November 2009

KEPADA SRIMAR

Pernah suatu ketika aku bertandang di depan hatimu
tetapi engkau tolak dengan
kerlinganmu
Menggoda aku untuk terus memimpikanmu
Sepanjang waktu semusim lalu
Kita pun bertemu di cuaca yang berubah
Di taman partere yang gerah
Ada sisa rindu
Ada sisa syahdu
Tibatiba ingatan terbelah
Antara pasrah dan gelisah
Karena engkau menyimpan pesona seorang ibu
Juga seorang ratu
Di mataku engkau menjelma candu

Srimar
Catatlah dalam hidupmu
Antara taman dan bunga-bunga
Ada cinta bermekaran di udara

Depok, November 2009

13 November 2009

KEPADA IYA

Iya
Aku memang mencintai kalian
Tidak sederhana memang
Namun juga tidak terlalu rumit

Iya
Aku memang rindu kepada kalian
Tidak menggebu-gebu memang
Hanya sebatas pandang

Iya
Aku memang ingin memiliki kalian
Tidak mungkin memang
Cukup saja memotretnya dalam bayangbayang

Iya
Aku memang sedang menghapus kalian
Tidak semuanya memang
Meski terasa sakit

Depok, November 2009

KEPADA SAGAR YOEL

cikurai
indah namun tiada aku

Depok, November 2009

11 November 2009

AIR

Cerpen Moh. Syarif Hidayat

Benar-benar terlalu.
Dengan alasan yang tak dangkal mereka menolak begitu saja. Di mana empati mereka sebagai manusia. Apakah kekuasaan harus seperti itu. Memilah-milah, memilih-milih, dan berlaku seenaknya tanpa peduli dengan jeritan hati orang yang bahkan baru hari ini berurusan dengan mereka. Jika tidak karena istri dan kesadaran untuk melapor rakyat aku harus berhadapan dengan mereka. Tapi apa yang kuperoleh? Huh. Penolakan yang tak berperikemanusiaan!
Di saat-saat seperti ini, otakku agak jalan. Kutelepon seorang teman. Kuceritakan peristiwa yang harus menimpa keluargaku. Peristiwa yang membuat aku menyesal di kemudian hari dan terkadang mengutuk diri sendiri. Dan ini gara-gara Air. Ah, kenapa air juga yang harus disalahkan?
Aku tak menyangka jika kemudian suasananya menjadi seperti ini.
Sekian puluh polisi datang lengkap dengan pimpinannya. Tim SAR telah lebih dulu datang dengan berbagai peralatannya. Setelah basa-basi sebentar, mereka bergerak menuju sungai. Sebagian polisi menyusuri pinggiran sungai, sebagian lagi bersama Tim SAR telah berada di atas perahu karet membelah sungai dengan dayungnya. Pelan-pelan mereka bergerak. Bergerak mereka pelan-pelan. Sesekali batangan bambu atau kayu mereka arahkan ke kedalaman sungai. Berharap ada benda yang tersangkut. Berjam-jam mereka melakukan itu. Dan hasilnya, nihil.
Terdengar keluh kesah. Di wajah mereka kubaca gurat kekecewaan. Tetapi aku tak tahu persis, apakah kekecewaan mereka diakibatkan oleh kegagalan ataukah karena mereka harus melakukan pekerjaan ini. Pekerjaan yang bagi mereka menjadi begitu menyiksa.
Aku jadi teringat penolakan tadi pagi di kantor mereka.
“Ini hari Sabtu, Pak!”
“Tapi ini menyangkut nyawa orang.”
“Personil kami sebagian besar tidak masuk kantor.”
“Tapi kan masih ada beberapa orang yang bisa dimintai tolong, pak?”
“Ah, pokoknya tidak bisa. Titik!”
Hmm. Kalau membayangkan kejadian tadi pagi aku jadi geli sendiri. Kenapa sekarang mereka kemudian ada di sini? Diam-diam kuucapkan terima kasih. Dalam hati.
Siang semakin terik namun pencarian tak kunjung menemukan hasil.
Seorang anggota polisi yang tadi ikut melakukan pencarian bergegas menemui komandannya. Berbisik-bisik. Komandan polisi itu kemudian menemui seorang lelaki lain yang berdiri di atas tebing. Ia sedang asyik mengamati dan sesekali menimpali obrolan beberapa orang di sekelilingnya. Mereka berseragam. Dan aku ada di sana. Risi dan minder.
“Lapor, Pak!”
“Bagaimana?”
“Dengan izin Bapak, pencarian untuk sementara dihentikan karena hari semakin terik!”
“Ya, sebaiknya kita istirahat dulu.”
Komandan itu kembali menuruni tebing dan bergabung dengan anak buahnya.
Kulihat perahu karet merapat. Mereka menghentikan pencarian.
Aku kecewa. Maafkan aku, Tun.
***
“Hmm. Kalau menurut Abah, istrimu baru akan muncul nanti tepat pukul lima sore.”
Ada kegembiraan menyeruak dalam hati. Kegembiraan di bawah bayang-bayang kepedihan.
Kusimpan informasi itu diam-diam. Hanya anakku saja yang tahu. Anakku yang erat kupeluk dan terus memanggil ibunya.
“Terima kasih, Bah.” Hanya itu yang dapat kusampaikan.
“Ya, Saran Abah, kamu cari nanti selepas Asar.”
Setelah mengucapkan terima kasih berulang kali, Aku bergegas kembali ke sungai.
Selepas Asar pencarian dilanjutkan. Beberapa orang polisi kembali menaiki perahu karet. Dua orang berpakaian selam kemudian menceburkan diri ke sungai. Mereka menyelam.
Bersama beberapa orang tetangga, Aku pun ikut mencari.

05 November 2009

TELAH KUKIRIMKAN PADA ALAMAT ITU

Telah kukirimkan pada alamat itu
sebuah tanda yang dapat diterjemahkan dengan leluasa
tergantung engkau mau memandangnya apa
atau sebagai apa

jika engkau kemudian bertanya untuk apa?
aku akan kelabakan menjawabnya
karena memang aku tidak tahu untuk apa
atau sebagai apa

terima saja dengan tangan terbuka
sampingkan setiap prasangka
yang hadir ketika engkau membukanya
anggaplah bahwa itu rezeki tak terduga

aku justru sedang menduga-duga.

Depok, 5 November 2009

04 November 2009

DI DEPOK (Puisi Spontan)

Di Depok,
rimbun daun telah sirna
kecuali pohon belimbing di pekarangan ini.

Di Depok,
jalan-jalan berubah warna
kecuali di jalan setapak ini.

Di Depok
matahari makin meninggi
panas menyengat tak henti-henti.

Di Depok
aku harus berdiri.

Depok, 4 November 2009